Hati Ibu Rachel tetap gundah. Walau ia seorang pemimpin gereja yang setiap minggu mendengar Yesus Kristus adalah Jembatan Keselamatan, kepergian sepupunya terasa begitu berat. Bayangan perpisahan itu terasa dingin dan pekat, seakan-akan kematian menjadi titik akhir dari segalanya di mana mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Gelombang dukacita yang dialami Bu Rachel menyingkapkan betapa rapuhnya emosi manusia ketika diperhadapkan pada kenyataan fana tubuh ini. Dunia tentu memandang hidup yang fana harus diperjuangkan sekuat mungkin, karena tidak ada hari setelah kematian. Tidak jarang, pandangan yang salah ini menjangkit pada orang percaya. Maka, perpisahan fisik acap kali diperlakukan seolah-olah hilangnya juru selamat kehidupan.
Bukan Perasaan Manusia Saja
Perasaan kehilangan memang manusiawi, tetapi meratapi kematian seolah tanpa harapan adalah kekeliruan yang mengabaikan kedaulatan Allah. Dalam Mazmur 116:15 ditegaskan bahwa kematian orang-orang yang dikasihi Tuhan sangat berharga di mata-Nya. Kata yā·qār yang diterjemahkan menjadi “berharga” atau “berat” (TB2) menggarisbawahi betapa berat dan diperhatikannya kejadian tersebut oleh Allah; Ia tidak pernah membiarkan anak-anak-Nya mati secara sia-sia.
Rasul Paulus pun menegaskan bahwa tujuan hidup orang percaya telah bergeser seutuhnya dari diri sendiri kepada Allah: "Hidup atau mati, kita mengikut Tuhan. Hidup atau mati, kita adalah milik-Nya" (Rm. 14:8, FAYH). Maka ketika kita menganggap kematian sebagai kehampaan tanpa tujuan, kita sedang terjebak pada berhala egosentris—seolah-olah hidup ini milik kita sendiri. Padahal, bagi orang percaya, beralih dari tubuh fana bukanlah kepasrahan suram, melainkan keberanian iman untuk menetap bersama Tuhan (2 Kor. 5:8).
Pemberian makna baru atas kematian ini berakar penuh pada karya dan janji Kristus. Yesus menyatakan diri-Nya kepada Marta: "Akulah kebangkitan dan hidup. Siapa yang percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun sudah mati" (Yoh. 11:25, TB2). Melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus, rahasia Kerajaan Allah dibukakan bagi kita. Orang-orang yang telah dilahirkan kembali tidak lagi berada di bawah ketakutan akan kebinasaan. Kebangkitan Kristus menjamin bahwa perpisahan oleh kematian fisik hanyalah perpindahan sementara. Kita yang telah dipersatukan dengan Dia tidak dihentikan oleh maut, melainkan dipelihara sampai pada kehidupan kekal yang sempurna.
Sewaktu Jemaat Kehilangan Pdt. The Giok Gak
Harapan ini mengubah cara kumpulan orang percaya berduka. Dalam kebaktian penghiburan jemaat Batu Zaman untuk almarhum Pdt. The Giok Gak, meski rasa haru membuncah dalam hati, suasana rumah duka justru dipenuhi nuansa pengharapan yang hangat. Jemaat bisa tertawa bersama keluarga mengenang kisah menggelikan dari almarhum, sewaktu kesaksian tentang almarhum disampaikan dari Hamba Tuhan lain.
Para pendeta yunior menaikkan syukur atas keteladanan beliau, sebab perpisahan itu dipahami bukan sebagai kehilangan yang sia-sia, melainkan peristirahatan yang damai dan berbuah upah manis di dalam Tuhan (Wh. 14:13). Janji Firman memastikan bahwa kelak saat Kristus datang kembali, orang mati dalam Kristus akan dibangkitkan dan yang hidup akan diangkat bersama-sama untuk selamanya berada bersama Tuhan (1 Tsl. 4:17). Jerih lelah pelayanan tidak pernah sia-sia, dan persekutuan orang percaya tidak diputuskan oleh kubur.
Menghadapi tubuh yang makin merapuh dan dunia yang fana ini, kita diajar untuk tidak menaruh pengharapan pada optimisme semu melainkan pada janji kesetiaan-Nya. Kiranya Roh Kudus menolong kita agar di tengah duka perpisahan maupun bayang-bayang kematian, hati kita tetap melimpah dengan ucapan syukur. Marilah kita terus melayani dan menantikan pimpinan Bapa dengan sabar, sambil memegang teguh keyakinan bahwa baik dalam hidup maupun mati, kita aman berada di dalam persekutuan kekal bersama Kristus. Amin.


0 Komentar