"Bagi saya, jadwal dan rencana kerja adalah harga mati," ujar Pak Reno, seorang guru fisika SMA yang dikenal sangat berdedikasi oleh rekan-rekannya. Di mata orang lain, Pak Reno adalah sosok pengajar teladan yang rela bertahan di meja kerja, sebelum tugas murid-muridnya rampung diperiksa.
Namun, di balik predikat tersebut, terdapat gejolak kecemasan yang melumpuhkan. Setiap kali ada perubahan jadwal mendadak dari sekolah, atau ketika situasi kelas membuat alokasi materi ajarnya terganggu, Pak Reno mengalami kepanikan ekstrem.
Dada Pak Reno berdebar kencang dan jiwanya diliputi cemas luar biasa, seolah-olah sebuah bencana besar baru saja terjadi. Untuk meredam "kekacauan" tersebut, ia meresponsnya dengan dorongan kompulsif: menambah jam kerja secara drastis demi merapikan segalanya.
Rasa Takut di Balik Kontrol
Dedikasi yang dibayangi oleh kepanikan ekstrem terhadap ketidakpastian, hampir selalu merupakan bentuk coping mechanism (sistem pertahanan batin). Kecuali rasa takut akan Allah dan benci akan dosa, reaksi emosional yang berlebihan terhadap perubahan situasi menandakan adanya trauma atau ketakutan terpendam yang sedang ditutupi.
Pekerjaan yang berlebihan (workaholism) dan kebutuhan obsesif untuk menjaga segala sesuatu tetap teratur menjadi "perisai" bagi Pak Reno. Ketika jadwal terganggu, perisai itu retak. Kepanikan ekstrem yang muncul bukanlah sekadar bukti rasa tanggung jawab seorang pendidik, melainkan alarm bahwa mekanisme pertahanan dirinya runtuh. Pak Reno berusaha mengontrol jadwal dan tugas sekolah secara berlebihan untuk menutupi ketakutan bawah sadarnya: rasa takut dipandang gagal, tidak kompeten, atau tidak berharga jika situasinya berada di luar kendali tangannya.
Luka Penerimaan
Ketika mengurai akar pergumulannya, kecenderungan Pak Reno untuk memegang kendali penuh atas kehidupannya bersumber dari pola pengasuhan atau pengalaman traumatis di masa lalu. Ia dibesarkan dalam rumah yang rasa berharga hanya diberikan ketika ia mencapai standar kesempurnaan dan tidak membuat kesalahan.
Menyapu lantai harus benar-benar bersih. Mengepel harus kelihatan mengkilapnya. Membersihkan hiasan di buffet harus dilakukan tiga hari sekali. Menyiram tanaman di pekarangan minimal seminggu sekali. Dan rupa-rupa pekerjaan rumah lain yang harus diselesaikan dengan sangat baik, lagi teratur. Kegagalan atau ketidakmampuan menangani berbagai tanggung jawab itu, akan menuai sindiran menyakitkan hati.
Orang seperti Pak Reno umumnya merepresi memori pahit akan rasa tidak berharga itu dan membentuk keyakinan keliru, "Saya hanya aman dan berharga jika saya bisa mengendalikan dan merapikan segalanya sendiri." Pekerjaan sebagai guru dan keteraturan jadwal pun dijadikan sebagai cara mengukur bobot dirinya. Tanpa disadari, ia bertindak seolah-olah keberlangsungan dunia dan nilai dirinya berada di atas pundak dan ketelitian jemarinya sendiri, alih-alih di dalam pemeliharaan Allah.
Pemulihan Roh Kudus
Konselor Kristen Ed Welch, dalam artikel Running Scared: Fear, Worry and the God of Rest, menekankan bahwa ketakutan akan kegagalan dan kontrol berakar dari hilangnya kesadaran akan kebesaran dan kebaikan Allah dalam hidup kita. Sebagai peresensi artikel Welch tersebut, Tim Chester menyatakan, “In other words, fear wants to be in control. But the reality is that we are dependent, so fear is an opportunity to trust God.” (Dengan kata lain, rasa takut ingin memegang kendali. Namun kenyataannya, kita adalah makhluk yang bergantung; jadi, rasa takut merupakan kesempatan untuk memercayai Allah.)
Melalui para konselor, Roh Kudus bekerja menyadarkan seseorang bahwa identitas dan rasa berharganya bukan ditentukan oleh kesempurnaan hasil kerja. Sebab salib Kristus menyatakan bahwa orang percaya telah diterima dan dikasihi secara utuh oleh Allah bukan karena performa kerjanya, melainkan karena karya pembenaran Kristus. Roh Kudus memampukan setiap orang percaya untuk mengakui keterbatasan dirinya sebagai manusia ciptaan, dan tidak sanggup memegang kendali atas segala hal.
Ketika seseorang menerima anugerah ini, keterikatan obsesifnya akan dipatahkan. Ia dimampukan untuk melepaskan ilusi kendali, dan menyandarkan masa depan maupun pekerjaannya ke dalam kedaulatan Bapa.
Apa Berhala Keteraturan di Hati Kita?
Kisah Pak Reno mengajak kita untuk memeriksa motif di balik dedikasi dan kesibukan kerja kita setiap hari. Apakah rasa lelah, kecemasan ekstrem, dan dorongan untuk selalu menambah jam kerja kita timbul dari upaya yang tulus demi berkembang, ataukah dari rasa takut akan ketidakpastian yang tersembunyi?
Ketika rencana kita berantakan atau situasi berjalan di luar ekspektasi, apakah kita meresponsnya dengan ketenangan dalam iman, atau kepanikan yang melumpuhkan akal sehat?
Mari memohon agar Roh Kudus melembutkan hati kita untuk berani melepaskan obsesi kendali diri. Kiranya kita dimampukan untuk bekerja secara bertanggung jawab tanpa harus menjadikan hasil kerja atau keteraturan sebagai tempat perlindungan buatan, sebab hidup kita telah aman terjamin di dalam Kristus.


0 Komentar