Filsuf Plato pernah menyatakan, orang yang paling bijaksana adalah ia yang menyadari betapa tidak pantas dirinya untuk belajar tentang hikmat. Menurut Plato, jalan menuju pengetahuan sejati dimulai dari pengakuan jujur akan ketidaktahuan diri. Namun, betapa seringnya kita di masa kini berbalik arah dari kebenaran sederhana ini.
Sewaktu dihadapkan pada kompleksitas hidup, tidak jarang orang Kristen masa kini yang kerap mengagungkan akal budi, menajamkan buah analisis, hingga membangga-banggakan tingginya pengalaman sebagai senjata ampuh. Padahal, sudah sangat sering ditemukan dalam komunitas-komunitas Kristen, kecerdasan akademis maupun kelihaian strategi duniawi yang lepas dari Allah, justru melahirkan perdebatan sengit, sikap legalistik yang saling merendahkan, berujung perpecahan. Alih-alih hidup dalam lingkungan penuh sukacita, orang Kristen malah mengalami kelelahan jiwa, sekalipun berada di tengah sesama orang percaya.
Pengagungan Pengetahuan
Pola pikir yang mengagungkan pengetahuan manusia semata, secara hakikat adalah jerat yang menipu. Alkitab menegaskan bahwa "TUHANlah yang memberi hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian" (Ams. 2:6). Semua kreativitas, kecerdasan, dan daya cipta manusia sebagai gambar Allah (Imago Dei) sejatinya adalah pemberian-Nya. Pemberian itu baru bermakna dan berdampak luas, ketika ditundukkan kepada Sang Pencipta.
Mengandalkan kecerdikan diri tanpa ketundukan pada Allah hanyalah bentuk kebebalan yang membawa pada destruksi. "Hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah" (1 Kor. 3:19). Melalui nabi Yeremia, Allah sudah memberi peringatan dengan keras: "Janganlah orang bijaksana membanggakan diri karena hikmatnya, janganlah orang kuat membanggakan diri karena kekuatannya, janganlah orang kaya membanggakan diri karena kekayaannya" (Yer. 9:23). Segala bentuk pencapaian dan kebijakan manusiawi, hanyalah penopang yang rapuh saat kesusahan melanda.
Pengetahuan di Bawah Injil
Kerendahan hati orang percaya dicapai melalui karya Kristus di kayu salib, karena setiap orang percaya belajar dari Kristus sendiri yang begitu rendah hati. Walau dunia memandang Kristus yang tersalib sebagai sebuah kebodohan tak masuk akal, justru melalui karya-Nya, "rencana Allah yang dianggap 'bodoh' itu jauh lebih bijaksana daripada rencana manusia yang paling bijaksana" (1 Kor. 1:25).
Namun seseorang yang belum mengalami kelahiran kembali, tidak akan pernah mencapai pandangan yang diinginkan Allah. Sebaliknya, setelah seseorang dilahirkan kembali, cara pandangnya seutuhnya diubahkan. Ia disadarkan bahwa hakikat dasar dari hikmat sejati bukanlah menguasai rumus-rumus tersembunyi atau memenangkan argumen. "Takut serta hormat kepada Allah itulah hikmat yang sejati; meninggalkan kejahatan itulah pengertian yang benar" (Ayub 28:28).
Karakter Hikmat
Dalam Rapat Urusan Gereja (RUG) di lingkungan gereja Baptis, suasana perdebatan sering kali berlangsung amat alot karena setiap suara jemaat memiliki bobot yang dihargai. Ketika berbagai pertimbangan dan gagasan berbenturan saat menilai relevansi suatu program, seorang hamba Tuhan yang berhikmat tidak akan terjebak untuk mengedepankan ego atau membuktikan siapa yang paling benar. Sebaliknya, ia akan menjaga hal-hal yang prinsipiil dengan penuh keramahan, menjadi pendamai, dan mengutamakan keutuhan bersama.
Wujud nyata dari hikmat Ilahi: "Hikmat yang dari atas pertama-tama murni, selanjutnya cinta damai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak, dan tulus ikhlas" (Yak. 3:17). Hikmat dari Allah tidak suka bertengkar demi pertengkaran itu sendiri, melainkan membawa ketertiban di tengah kekacauan.
Pada akhirnya, hikmat sejati tidak diukur dari seberapa cerdik kita merangkai alasan, melainkan kepada siapa kita hormat dan seberapa tulus kita menundukkan diri pada kehendak Bapa. Marilah kita memohon agar Roh Kudus terus membebaskan kita kesombongan intelektual dan hal-hal lain yang bersifat memegahkan diri. Kiranya, baik dalam seluruh perencanaan, tugas pelayanan, hingga pengambilan keputusan sehari-hari, kita senantiasa dipimpin oleh hikmat Allah yang membawa damai sejahtera dan memuliakan nama-Nya. Amin.


0 Komentar