Fanny menatap skema dan analisis usaha barunya dengan bangga. Hasil kerja itu tampak begitu meyakinkan. Sebagai seorang anak dari pebisnis yang berhasil, pernah membantu orang tuanya mengembangkan usaha, wajar kalau Fanny sangat percaya diri merancang usaha barunya.
Berbekal rasa optimis meretas jalan baru, Fanny dengan mantap meminjam modal usaha pada orang tuanya, setelah tuntas mempresentasikan usaha barunya. Tujuannya jelas: dia ingin punya usaha yang lebih baik bagi dirinya sendiri. Dia ingin usahanya bukan hanya berhasil, tetapi juga memberinya lebih banyak waktu untuk meningkatkan kapasitas diri.
Namun, setelah enam bulan berlalu, kenyataan pahit menghantam: usaha itu mangkrak akibat alur kas yang megap-megap menutup operasional harian. Persoalannya sederhana: tempatnya sepi pembeli karena tempat yang kurang strategis. Padahal, secara hitung-hitungan margin per barang, proyeksi profitnya amat menggiurkan.
Sebenarnya, kesalahan terbesarnya bukan pada kurangnya pengalaman membuka tempat usaha baru, melainkan pada langkah yang lebih awal lagi. Tuhan “disuruhnya menunggu waktu saat teduh di pagi hari”, bukan dijadikan sebagai Pemilik Modal sekaligus Rekan Bisnis yang harus dimintai pendapat setiap waktu. Sebaliknya, Fanny hanya mengandalkan naluri bisnis dan pengalamannya sendiri.
Teguran Kesombongan
Pengalaman pahit semacam ini menegur kesombongan intelektual dan ilusi kendali kita. Kitab Amsal mengingatkan, "Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa hidup dengan bijak akan selamat" (Ams. 28:26). Mengandalkan intuisi atau pengalaman masa lalu sebagai otoritas tertinggi adalah kebebalan, sebab hati manusia licik dan sering menipu.
Kita kerap lupa bahwa "jalan hidup manusia bukanlah di bawah kendalinya sendiri, dan orang yang berjalan tidak berkuasa menetapkan langkahnya" (Yer. 10:23). Ketika kita merasa sanggup menyokong diri sendiri tanpa pertolongan Allah, pengertian kita tak ubahnya seperti buluh yang patah saat ditindih beban berat. Firman Tuhan memanggil kita untuk menanggalkan keangkuhan itu: "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri" (Ams. 3:5).
Injil yang Membebaskan
Di sinilah peran Injil Kristus merombak cara kita memandang keterbatasan diri. Sebagai orang-orang berdosa yang sejatinya rapuh dan tak berdaya, kita telah diselamatkan oleh rahmat Allah Bapa melalui pengurbanan Kristus di kayu salib. Pengalaman dilahirkan kembali di dalam Kristus membawa kita pada kerendahan hati yang baru—sebuah keinsafan bahwa kita bukan lagi tuan atas hidup kita sendiri.
Kesadaran bahwa Allah memegang penuh kedaulatan atas seluruh ciptaan, membuat kita tidak perlu lagi berpura-pura tahu atau memaksakan kehendak diri. Anugerah Injil membebaskan kita dari jerat kemandirian yang palsu, lalu memimpin kita untuk dengan tulus tunduk di bawah hikmat, kuasa, dan kebaikan Allah yang tak pernah gagal.
Ujian Melalui Krisis
Ketergantungan ini teruji justru di tengah krisis datang mengimpit batin. Sering kali pergeseran kebergantungan terjadi tanpa kita sadari, seperti seorang ayah yang anaknya harus dirawat di rumah sakit—tanpa sadar hatinya pelan-pelan bergeser dari bergantung pada Allah menjadi bergantung penuh pada fasilitas medis.
Saat krisis menajam dan anaknya mendadak harus dirujuk untuk tindakan medis lanjutan, rasa bingung membuncah. Namun, teguran lembut Roh Kudus menyadarkan hatinya untuk bertobat, mengakui keterbatasan diri, dan berpaling meminta pertolongan Ilahi.
Situasi tidak serta-merta menjadi ajaib, tetapi pimpinan Allah nyata: di injury time sebelum jam praktek berakhir, dokter rujukan menemukan bahwa penyakit sang anak hanyalah gejala virus umum yang tidak memerlukan tindakan medis rumit, cukup ditangani dengan konsumsi obat di rumah.
Pengakuan Ketidakberdayaan
Pengalaman itu senada dengan seruan Yosafat saat terdesak dalam kepungan musuh: "Kami tidak tahu harus berbuat apa, sebab itu kami datang kepada-Mu minta tolong" (2 Tawarikh 20:12). Mengakui ketidakberdayaan bukanlah tanda kelemahan, melainkan awal dari doa yang beriman. Sebab Allah berjanji, jika ada di antara kita yang kurang berhikmat, hendaklah ia memintanya kepada Allah yang memberi dengan murah hati tanpa mencela (Yak. 1:5).
Memohon hikmat Allah akhirnya menuntut kesabaran untuk berjalan dalam kebenaran-Nya tanpa terburu-buru menuruti ketakutan. Pemazmur menaikkan doa: "Tuntunlah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari" (Mzm. 25:5).
Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk menanggalkan gengsi dan sok tahu kita. Di dalam setiap perencanaan kerja, krisis pengasuhan, maupun keputusan hidup yang membingungkan, kita perlu selalu melibatkan Tuhan. Kita perlu dengan sabar menantikan pimpinan-Nya. Amin.


0 Komentar